Industry Leading Waranty

HOME MigasNews


Minim Pasokan Gas, Industri Pupuk Indonesia Tertekan

Sabtu, 07 Desember 2019 1.009

Minim Pasokan Gas, Industri Pupuk Indonesia Tertekan

Foto : PT. Pupuk Indonesia Holding Company

Wartatambang.com, Jakarta. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) dalam agenda rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI menyebut masih mengalami kekurangan pasokan gas.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Aas Asikin Idat menjelaskan, kebutuhan akan gas menjadi penting sebab gas merupakan komponen utama pembuatan pupuk.

Kesulitan ini dialami sejumlah anak usaha Pupuk Indonesia. "Dua pabrik Pupuk Iskandar Muda sekitar 110 juta kaki kubik per hari (mmscfd) sementara alokasi 30 mmscfd," kata Aas, Kamis (5/12).

Lebih jauh Aas melanjutkan, kekurangan pasokan terjadi akibat terkendalanya kontrak Perjanjian Jual Beli Gas dengan PT Pertamina. Bahkan jika kontrak tidak diefektifkan maka pada 2020 dua pabrik PIM terancam tidak bisa beroperasi.

Adapun, kekurangan pasokan gas diproyeksikan masih akan terjadi dalam beberapa tahun kedepan terhadap total kebutuhan pupuk Indonesia.

Dalam paparan yang disampaikan, defisit akan mulai nampak ditahun 2022 mendatang dimana total kebutuhan diprediksi mencapai 815 mmscfd sementara pasokan hanya sebesar 791 mmscfd. Ditahun selanjutnya di 2023, dengan total kebutuhan yang sama, pasokan diprediksi turun menjadi 752 mmscfd.

Aas mengungkapkan, gas berkontribusi sekitar 70% dalam biaya produksi sehingga sangat mempengaruhi perhitungan soal harga pokok pupuk.

"Harga rata-rata gas yang dikenakan untuk pupuk dalam negeri kisaran US$ 5,8 per MMBTU ada juga yang US$ 7 per MMBTU sementara harga pesaing rata-rata US$ 3,9 per MMBTU," terang Aas.

Aas menambahkan, pihaknya selama ini telah mencoba menyerap LNG dari pasar spot kendati demikian langkah tersebut tak dapat terus diambil. Ia mengharapkan alokasi dari pemerintah, secara khusus pasokan gas yang dekat dengan lokasi pabrik.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto bilang kebutuhan gas dalam negeri khususnya industri pupuk bisa menggunakan gas yang selama ini dialokasikan untruk ekspor.

"2023 ekspor gas dari Natuna dan Grissik akan selesai, Pupuk Kujang dan Sriwijaya bisa pakai ini," sebut Djoko dalam kesempatan yang sama.

Kendati demikian Djoko mengungkapkan, langkah ini berpotensi mengurangi penerimaan negara. Selama ini gas yang diekspor dibanderol sebesar US$ 10 per MMBTU sementara jika dialokasikan untuk pupuk maka maksmila hanya sebesar US$ 6 per MMBTU.



Joko Yuwono

Sumber Berita : Antaranews.com
Editor : Joko Yuwono

Test Upload Iklan by Company 728x90-2

Warta Terkait

Industry Leading Waranty