Pemansan global (global warming) adalah fenomena peningkatan suhu rata-rata di permukaan bumi, atmosfer, laut, dan daratan secara bertahap. Krisis ini disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer yang terjadi sejak awal Revolusi Industri.
Sementara transisi energi adalah proses merubah penggunaan sumber energi berbasis fosil dan tidak ramah lingkungan menjadi penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan seperti panel surya, air, panas bumi, dan angin.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan alam yang melimpah, memiliki potensi luar biasa untuk turut serta mengatasi krisis yang telah menjadi kekhawatiran global sejak beberapa dasawarsa terakhir ini. Salah satunya dengan menghasilkan energi ramah lingkungan yang berasal dari sumber-sumber energi baru dan terbarukan (EBT).
Pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali tahun 2022, transisi energi menjadi salah satu prioritas yang menghasilkan kesepakatan sebagaimana tertuang dalam dokumen Deklarasi Pemimpin G20.
Dalam deklarasi tersebut dinyatakan pentingnya mencapai net zero emission atau nol emisi karbon pada 2060 dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 7 (Energi yang Terjangkau dan Bersih) untuk menyediakan stabilitas, transparansi, dan keterjangkauan energi bagi seluruh masyarakat.
Kolaborasi Partisipatif
Sebagai bentuk komitmen bersama dalam penanganan pemanasan global, Indonesia bersepakat mengatasi pemanasan global dengan membuat prioritas pengembangan energi bersih dengan menargetkan penggunaan energi bersih berbasis energi baru terbarukan (EBT) minimal 23 persen pada 2025 dan net zero emission pada 2060.
Akan tetapi untuk mewujudkan masa depan hijau ini tentunya bukan perkara mudah. Transisi menuju energi bersih memerlukan langkah konkret yang melibatkan semua pihak.
Pertama, dukungan pemerintah dalam hal regulasi dan insentif dalam pengembangan energi baru. Diharapkan, regulasi yang mendorong penggunaan energi terbarukan akan mempercepat pembangunan proyek hijau, sementara insentif bagi investor dan perusahaan diharapkan dapat memperkuat daya tarik sektor energi terbarukan di Indonesia.
Kedua, adanya kolaborasi dan partisipasi aktif dari semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan korporasi, termasuk PT PLN (Persero) yang memiliki peran besar dalam distribusi listrik ke seluruh negeri.
Sebagai entitas bisnis milik Negara, PT PLN (Persero) telah menunjukkan keseriusan dalam mendukung transisi energi hijau melalui berbagai inovasi dan program yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil, selain untuk menekan emisi karbon.
Sebagaimana diketahui, dalam beberapa tahun terakhir PLN telah berhasil mengimplementasikan proyek-proyek pembangkit listrik tenaga surya, air, panas bumi, dan tenaga angin di beberapa daerah di Indonesia. Langkah tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 dan target nol emisi karbon pada 2060.
Salah satu contoh konkret adalah program Energizing Island di wilayah-wilayah terluar dan tertinggal yang memanfaatkan energi surya untuk menyediakan listrik secara berkelanjutan di pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau, dan memberikan akses listrik bagi masyarakat lokal yang sebelumnya hidup tanpa penerangan.
Dalam pelaksanaannya, selain menggandeng perusahaan lokal dan internasional, PLN juga menjalin kemitraan dengan komunitas masyarakat di berbagai daerah. Melalui kemitraan strategis dengan perusahaan-perusahaan ini, PLN dapat memanfaatkan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem energi terbarukan.
Teknologi baterai penyimpanan, misalnya, memungkinkan energi yang dihasilkan dari matahari dapat disimpan dan digunakan di malam hari atau saat kondisi cuaca mendung, memastikan pasokan energi tetap stabil.
Energi Bersih untuk Masa Depan
Perubahan iklim telah menjadi ancaman global yang dampaknya sangat nyata bagi masyarakat dunia, tidak terkecuali bagi Indonesia.Dari meningkatnya suhu udara hingga banjir dan kekeringan yang terjadi lebih sering, semua ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui penggunaan energi bersih, PLN tidak hanya mendukung pembangunan berkelanjutan tetapi juga memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Pada akhirnya, keberhasilan transisi energi bukan hanya tugas PLN atau pemerintah, tetapi tugas kita bersama. Dalam upaya ini, setiap individu memiliki peran mulai dari mengurangi konsumsi energi hingga memilih produk ramah lingkungan.
Memang bukan hal yang mudah melakukan transisi energi bersih untuk mencapai target nol emisi karbon tahun 2060. Akan tetapi, untuk menjaga keberlangsungan bumi dan makhluk hidup, komitmen dan kerja nyata bersama seluruh pihak harus diupayakan untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih hijau, mandiri energi, dan ramah lingkungan. (*)
Kata Kunci : PLN bertekad menyalurkan energi bersih dan mewujudkan kolaborasi demi komitmen hijau untuk masa depan Indonesia
10 Jul 2025, 19:17 WIB
03 Jul 2025, 14:31 WIB
Teknologi
30 Mei 2025, 0:30 WIB
Internasional
24 Feb 2025, 0:22 WIB
Liputan Khusus
13 Jan 2025, 15:49 WIB
Minyak dan Gas
12 Jan 2025, 23:31 WIB
Nasional
10 Jan 2025, 19:16 WIB
Ulasan
18 Des 2024, 13:38 WIB
Energi
18 Des 2024, 10:16 WIB
Internasional
16 Des 2024, 12:58 WIB
Nasional
13 Des 2024, 10:28 WIB
Lingkungan
12 Des 2024, 10:49 WIB
Energi
11 Des 2024, 11:12 WIB
Nasional
09 Des 2024, 13:08 WIB
Energi
05 Des 2024, 10:41 WIB
Nasional
04 Des 2024, 10:54 WIB
Nasional
03 Des 2024, 12:23 WIB
Internasional
02 Des 2024, 13:56 WIB
Nasional
26 Nov 2024, 10:29 WIB
Nasional
25 Nov 2024, 13:23 WIB
Nasional
25 Nov 2024, 10:11 WIB
Energi
21 Nov 2024, 10:24 WIB