Fashion Brand Season Sale
Fashion Brand Season Sale
Home
»
Liputan Khusus
»
Detail Berita


Imbas Pembatasan Kuota Produksi, Harga Nikel Diprediksi Naik Signifikan Tahun Ini

Foto: Salah satu lokasi penambangan biji nikel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. (AdobeStock)
Pasang Iklan
Oleh : Kriswinda

Jakarta, Wartatambang.com — Harga nikel diperkirakan akan mengalami lonjakan signifikan pada tahun 2025, didorong oleh kebijakan pemerintah Indonesia, sebagai produsen terbesar dunia, yang berencana melakukan pembatasan kuota produksi bijih nikel tahun ini.

Kebijakan tersebut dipastikan akan berdampak pada berkurangnya pasokan global dan diprediksi menjadi pemicu kenaikan harga nikel dalam beberapa tahun mendatang.

Mengutip laporan carboncredits.com pada Minggu (12/1/2025), sepanjang 2024 Indonesia tercatat memasok sekitar 56% dari kebutuhan nikel dunia dengan kapasitas produksi sebesar 272 juta ton.

Berlimpahnya pasokan tahun tersebut menyebabkan harga nikel sempat tertekan. Saat itu, banyak negara penghasi nikel lainnya, seperti Filipina, yang mulai meningkatkan produksi untuk mengisi kekosongan pasokan nikel Indonesia.

Namun, dengan adanya keputusan pemerintah Indonesia terkait kuota produksi bijih nikel berpotensi mengurangi pasokan nikel global hingga 33%, yang tentunya akan berdampak pada harga nikel di pasar internasional.

Proyeksi Harga Nikel pada Tahun 2025

Beberapa lembaga dan analis memperkirakan harga nikel akan mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2025.

DBS Research Grup memperkirakan harga nikel akan naik 4,1% menjadi US$17.500 per ton pada 2025 dan US$18.500 per ton pada 2026. Sementara Bloomberg Technoz melaporkan Bank Dunia memproyeksikan harga nikel akan menguat masing-masing 3% dan 6% pada tahun 2025 dan 2026.

Beberapa analis menyebut, selain pembatasan produksi oleh Indonesia, naiknya harga nikel juga disebabkan oleh pertumbuhan industri kendaraan listrik dan baja nirkarat dimana nikel merupakan komponen penting.

Selain itu, fluktuasi ekonomi global, termasuk perubahan dalam permintaan dan penawaran, serta dinamika perdagangan internasional, dapat memengaruhi harga nikel.

Namun demikian, meskipun diprediksi bakal ada kenaikan harga pada tahun ini, nampaknya pasar masih berhati-hati mencermati potensi lain yang dapat menekan harga nikel.

Pasalnya, permintaan global untuk nikel, yang sebagian besar digunakan dalam industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik (EV), diperkirakan akan tetap lemah.

Kedua sektor ini merupakan konsumen utama nikel, namun permintaan dari sektor tersebut tidak menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil.

Data dari Trading Economics menunjukkan harga nikel diperkirakan hanya akan naik sekitar 2,25% sepanjang tahun 2025, mencapai US$ 15.665 per ton.

Angka ini masih jauh di bawah harga tertinggi sepanjang masa (All-Time High atau ATH) yang pernah tercatat pada Mei 2007, yaitu US$ 54.050 per ton.

Meskipun demikian, kenaikan harga ini masih dianggap sebagai sinyal positif bagi pasar nikel yang sempat tertekan selama beberapa tahun terakhir.

Tren ini menunjukkan meskipun ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh sektor nikel global, langkah pemerintah untuk membatasi produksi nikel bisa menjadi titik balik yang memicu kenaikan harga.

Seiring dengan berkurangnya surplus pasokan dan peningkatan permintaan di sektor-sektor industry pengguna, harga nikel diharapkan akan terus menguat dalam beberapa tahun mendatang.

Saat ini Indonesia, yang masih mendominasi produksi nikel dunia, memiliki peran kunci dalam menentukan dinamika pasar dan harga nikel global.

Kebijakan pemerintah Indonesia terkait regulasi penambangan nikel akan terus diperhatikan oleh para pelaku pasar, karena setiap perubahan dalam kebijakan tersebut dapat memengaruhi pasar nikel secara global.

Apakah kebijakan pembatasan ini akan menjadi faktor utama dalam mendorong harga nikel ke tingkat yang lebih tinggi, atau apakah pasar akan kembali dibanjiri oleh pasokan berlebih, masih harus dilihat dalam beberapa tahun ke depan. (*)

Halaman :

Kata Kunci : Imbas Pembatasan Kuota Produksi, Harga Nikel Diprediksi Naik Signifikan Tahun 2025

Sorotan


Teknologi Oil Separator, Solusi Ramah Lingkungan untuk Pengolahan Limbah Industri Tambang

Teknologi

Ketegangan Global Dikhawatirkan Meningkat Terkait Mineral Tanah Jarang (REE)

Internasional

Imbas Pembatasan Kuota Produksi, Harga Nikel Diprediksi Naik Signifikan Tahun Ini

Liputan Khusus

Menimbang Untung-Rugi Rencana Indonesia Membeli Minyak Mentah dari Rusia

Minyak dan Gas

Presiden Prabowo Tunjuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Sebagai Ketua Satgas Hilirisasi

Nasional

Pasang Iklan

Pilihan Redaksi

Ironi Ketahanan Energi, Ini Alasan Indonesia Mengimpor Minyak dari Singapura

Ulasan

Energi Panas Bumi Jadi Andalan Bauran EBT Hingga Akhir 2024

Energi

Tambang Batubara di Afghanistan Runtuh, Beberapa Orang Terjebak

Internasional

WALHI Sumbar Sebut Ada Dugaan Aliran Dana Tambang Ilegal 600 Juta Per Bulan Kepada Aparat

Nasional

Bekas Tambang Grasberg Dalam Proses Reklamasi, Berapa Dananya?

Lingkungan

Pasang Iklan

Baca Juga

Pemerintah Akan Dorong Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Swasembada Energi

Energi

Ada Dugaan Pelanggaran HAM Dibalik Aktivitas Tambang di Musi Banyuasin, Berikut Kronologinya

Nasional

Di Tengah Gencarnya Transisi Energi, Mengapa Indonesia Masih Pakai Batubara?

Energi

Indonesia dan Kanada Jalin Kerjasama Sektor Mineral Kritis dan Transisi Energi

Nasional

Harga Komoditas Produk Pertambangan Turun Jelang Pergantian Tahun, Mengapa?

Nasional

Pasang Iklan

Berita Lainnya

China Temukan Cadangan Emas Raksasa Berkualitas Tinggi

Internasional

Bahlil Akui Indonesia Masih Impor Nikel Meski Punya Cadangan Terbesar di Dunia, Ada Apa?

Nasional

Kasus Polisi Tembak Polisi Diduga Akibat Lindungi Tambang Ilegal, Penegakan Hukum Harus Transparan

Nasional

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakati Kerjasama Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral

Nasional

Pemerintah Akan Pangkas Izin Sektor Energi Panas Bumi Jadi 5 Hari

Energi

Pasang Iklan